Dalam sebuah video YouTube https://www.youtube.com/watch?v=AVKtZwYAD9g&t=826s, perencana keuangan Prita Ghozie dan Raditya Dika membahas strategi praktis mengelola keuangan pribadi di tahun 2026. Yang menarik, pembahasannya tidak terlalu teoritis, tetapi sangat dekat dengan situasi yang sering dialami banyak orang: gaji masuk, tagihan dibayar, lalu saldo terasa cepat menipis tanpa benar-benar sadar ke mana uang pergi.
Artikel ini merangkum beberapa poin penting dari video tersebut dan mengubahnya menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau Malas Mencatat, Pisahkan Rekening Saja
Salah satu saran yang paling relate adalah: tidak semua orang cocok mencatat pengeluaran satu per satu.
Banyak orang sebenarnya tahu bahwa mencatat itu penting, tetapi sering tidak konsisten. Solusi yang ditawarkan adalah memisahkan uang ke beberapa rekening sejak awal gajian.
Contohnya:
Rekening pengeluaran tetap → cicilan, listrik, internet, sekolah.
Rekening pengeluaran tidak tetap → makan, transportasi, kebutuhan harian.
Rekening tabungan dan masa depan → dana darurat, investasi, tujuan jangka panjang.
Rekening hiburan → nongkrong, kopi, hobi, self reward.
Menurutku ini menarik karena kita tidak perlu terus-menerus menghitung. Ketika saldo rekening hiburan habis, itu menjadi sinyal alami bahwa jatah hiburan bulan ini sudah selesai.
Cara ini membuat arus kas lebih mudah dipantau dan mengurangi risiko uang tercampur antara kebutuhan dan keinginan.
Kalau kamu ingin mulai menerapkan tips-tips di atas tanpa harus ribet membuat spreadsheet sendiri, kamu bisa mencoba menggunakan Smoonly di https://app.smoonly.com.
Di sana kamu bisa:
mencatat pemasukan dan pengeluaran,
membagi pengeluaran berdasarkan kategori,
memantau kebutuhan dan keinginan,
melihat arus kas bulanan,
membuat target tabungan,
dan mengecek progres keuangan secara lebih jelas.
Menurutku, banyak orang sebenarnya bukan tidak bisa mengatur uang, tetapi belum punya sistem yang memudahkan mereka melihat ke mana uang pergi setiap bulan.
Smoonly bisa membantu proses itu menjadi lebih sederhana, sehingga tips seperti memisahkan kebutuhan, membangun dana darurat, dan mengontrol pengeluaran harian lebih mudah dijalankan secara konsisten.
Piramida Prioritas Keuangan: Jangan Langsung Kejar Investasi
Banyak orang ingin cepat investasi saham, emas, atau reksa dana. Padahal fondasi keuangannya belum kuat.
Prita menjelaskan konsep Piramida Prioritas Keuangan yang menurutku sangat masuk akal.
1. Must Have (Wajib Ada)
Ini adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi lebih dulu:
makan,
transportasi,
tempat tinggal,
cicilan yang wajib dibayar.
Kalau bagian ini belum aman, jangan buru-buru mengejar gaya hidup atau investasi agresif.
2. Should Have (Penting Dimiliki)
Setelah kebutuhan dasar aman, baru fokus ke hal-hal yang melindungi masa depan:
kesehatan,
asuransi,
dana pendidikan anak,
dana darurat.
3. Could Have (Boleh Dimiliki)
Baru setelah dua lapisan di atas terpenuhi, kita bicara tentang keinginan.
Prita menyebut konsep money dial, yaitu pengeluaran yang benar-benar memberi kebahagiaan atau nilai hidup bagi kita.
Menariknya, setiap orang bisa berbeda. Ada yang bahagia karena traveling, ada yang karena kopi, ada yang karena hobi sepeda, dan ada juga yang karena gadget.
Intinya bukan melarang menikmati hidup, tetapi memastikan kenikmatan itu tidak merusak fondasi keuangan.
Urutan Pengelolaan yang Sering Terbalik
Ini bagian yang menurutku paling menampar.
Banyak orang melakukan urutan seperti ini:
Gaji masuk → belanja → hiburan → investasi kalau ada sisa.
Padahal urutan yang disarankan adalah:
Bayar cicilan konsumtif terlebih dahulu.
Isi dana darurat.
Baru mulai investasi.
Kenapa?
Karena investasi tidak akan terasa optimal kalau kita masih dikejar utang konsumtif atau belum punya dana cadangan.
Target minimal dana darurat yang disebutkan adalah 3 kali pengeluaran bulanan.
Misalnya pengeluaran bulanan Rp5 juta, maka target awal dana darurat adalah Rp15 juta.
Menurutku ini jauh lebih realistis dibanding langsung menargetkan ratusan juta.
Kenali Fase Keuanganmu, Jangan Bandingkan dengan Orang Lain
Prita juga membahas bahwa setiap orang berada di fase keuangan yang berbeda.
Surviving
Gaji habis untuk kebutuhan pokok.
Belum bisa menabung rutin.
Growing
Mulai ada sisa uang.
Mulai menabung atau investasi kecil.
Steady
Dana darurat sudah ada.
Arus kas lebih stabil.
Tidak mudah panik saat ada pengeluaran mendadak.
Comfortable
Tujuan keuangan jangka panjang mulai tercapai.
Investasi berkembang.
Tekanan finansial jauh berkurang.
Bagian ini penting karena sering kali kita merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain sudah investasi besar, punya rumah, atau sering liburan.
Padahal mungkin kita masih berada di fase Growing, dan itu bukan kegagalan.
Investasi: Jangan Terjebak FOMO
Pembahasan investasi juga cukup menenangkan.
Prita menekankan pentingnya diversifikasi:
emas,
reksa dana,
saham,
dan aset lain sesuai profil risiko.
Yang paling penting, jangan mengejar aset hanya karena sedang naik.
Kita sering melihat berita seperti:
emas naik,
saham tertentu naik,
kripto naik,
properti naik.
Lalu muncul rasa takut ketinggalan atau FOMO.
Padahal membeli aset hanya karena sedang ramai sering membuat keputusan menjadi emosional, bukan rasional.
Menurutku kalimat yang paling membekas adalah:
Lebih penting konsisten daripada mencari investasi yang paling cepat naik.
Hubungan dan Keuangan: Topik yang Sering Dihindari
Bagian terakhir yang menurutku sangat dewasa adalah pembahasan tentang pasangan dan keuangan.
Sebelum menikah atau memiliki anak, penting untuk memiliki kesepakatan finansial yang jelas.
Misalnya:
siapa membayar kebutuhan rumah,
bagaimana pembagian tabungan,
apakah penghasilan digabung atau dipisah,
bagaimana menghadapi utang,
bagaimana prioritas pendidikan anak.
Banyak konflik rumah tangga ternyata bukan karena kurang cinta, tetapi karena tidak ada kesepakatan keuangan sejak awal.
Prita juga menekankan pentingnya kompatibilitas finansial.
Tidak harus memiliki penghasilan yang sama, tetapi cara memandang uang sebaiknya sejalan.
Kesimpulan
Dari pembahasan Prita Ghozie dalam video tersebut, terlihat bahwa pengelolaan keuangan yang sehat tidak selalu membutuhkan sistem yang rumit.
Beberapa prinsip yang paling ditekankan adalah:
memisahkan rekening sesuai tujuan,
memahami prioritas keuangan,
melunasi cicilan konsumtif,
membangun dana darurat,
berinvestasi secara bertahap,
dan memiliki komunikasi finansial yang jelas dengan pasangan.
Inti pesannya bukan tentang menjadi kaya dalam waktu singkat, melainkan membangun keuangan yang lebih tenang, terarah, dan realistis.
Bagi banyak orang, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap bulan sering kali lebih berdampak daripada strategi yang terlihat canggih tetapi sulit dijalankan dalam jangka panjang.
Dan kalau kamu ingin mulai menerapkan langkah-langkah tersebut hari ini juga, kamu bisa mencoba Smoonly di https://app.smoonly.com untuk membantu memantau pengeluaran, mengatur anggaran, dan melihat perkembangan keuanganmu secara lebih teratur.
Karena pada akhirnya, tujuan mengatur uang bukan hanya supaya saldo bertambah, tetapi supaya kita bisa hidup dengan rasa aman, lebih tenang, dan tidak terus-menerus bertanya:
“Uangku sebenarnya habis ke mana?”




